<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539</id><updated>2011-07-08T21:39:45.842+08:00</updated><category term='Heart of Sword part 17'/><category term='Heart of Sword part 5'/><category term='Heart of sword part 13'/><category term='Heart of Sword part 4'/><category term='Heart of sword part 1'/><category term='Heart of Sword part 9'/><category term='Heart of Sword part 2'/><category term='Heart of Sword part 3'/><category term='Heart of Sword part 10'/><category term='Heart of Sword part 11'/><category term='Heart of Sword part 8'/><category term='Heart of Sword part 15'/><category term='Heart of Sword part 7'/><category term='Heart of Sword part 6'/><category term='Heart of sword part 14'/><category term='Heart of Sword part 12'/><category term='Heart of Sword part 16'/><title type='text'>Maemunah's blog blogspot</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-2914204400956943403</id><published>2010-04-20T15:31:00.000+08:00</published><updated>2010-04-20T15:31:01.491+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 17'/><title type='text'>Heart of Sword part 17</title><content type='html'>Kuacungkan pedangku tinggi-tinggi mengarah ke perutku. Namun tiba-tiba seseorang  menahan pergelangan tanganku. Aku pun menoleh ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Seaaan....!!???"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean lalu mengambil pedangku dan menjauhkannya.&lt;br /&gt;Sorot matanya menatapku begitu tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau pikir dengan bunuh diri akan menyelesaikan masalah!?" desisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera bangkit berdiri, mencoba menatap mata Sean balik. Namun Sorot matanya menunjukkan bahwa dia sedang marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Itu bukan urusanmu!!!" sahutku ketus&lt;br /&gt;" Kau tak tahu apa-apa!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun melangkah pergi. Namun beberapa detik kemudian, Sean mencengkram tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Lepaskan aku Sean...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba melepaskan cengkraman tangannya. Namun itu sia-sia saja. Karena cengkramannya terlalu kuat.&lt;br /&gt;Sean menatapku semakin tajam, mengirimkanku ribuan tusukan pedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Jangan bodoh Hayde..!! Kata Sean.&lt;br /&gt;" Aku memang tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Tapi pikirkan masa depanmu!!! Pikirkan orang-orang disekitarmu!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa?? Aku harus memikirkan orang disekitarku!!??"&lt;br /&gt;teriakku&lt;br /&gt;" Buat apa?? Mereka semua tidak pernah tahu betapa menderitanya aku!!! Mereka tidak peduli! Bahkan orang yang selama ini aku percayai, juga membohongi aku!!! Mereka tidak mengerti perasaanku!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mataku tak kuasa ku tahan.&lt;br /&gt;" Jadi katakan Sean!? Buat apa aku hidup!!? Untuk&lt;br /&gt;apa lagi!!? Lebih baik aku mati!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" PLAKKK...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa pipiku perih seketika, ketika tangan itu menamparku.&lt;br /&gt;Sean memandang kedua tangannya dengan kaget, seolah tak percaya dengan apa yang telah dilakukannya.&lt;br /&gt;Aku bungkam seribu bahasa sambil memegang pipiku. Hanya air mata yang terus mengalir. Aku benci menangis, namun tak kuasa air mataku jatuh juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ma..maafkan aku Hayde...a..aku tidak bermaksud menamparmu"ujar Sean akhirnya &lt;br /&gt;" Tapi kalau kau katakan sekali lagi ingin mati, aku tidak akan pernah memafkanmu!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean lalu menyeka air mataku yang basah, seolah menebus kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hayde... bisakah kau melihat dunia ini lebih indah," ujar Sean lagi.&lt;br /&gt;" Ada banyak hal yang bisa kau lakukan untuk membuat perubahan. Kau bisa mencoba menjadi lebih baik"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus saja diam. Sean lalu mengangkat daguku. Membuat wajahku dan wajahnya berhadapan. Seketika wajahku memerah. Aku pun buru-buru memalingkan wajahku ke arah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hayde, Lihatlah aku!! Apa aku juga termasuk pembohong seperti yang kau katakan?? Apa kau tak percaya padaku??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang wajah Sean.  Selama ini Sean tak pernah membohongiku. Dia selalu mengatakan yang sebenarnya. Tapi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Katakan Hayde? Apa kau juga menganggapku pembohong!?"ulang Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng pelan. Sean lalu menggenggam kedua tanganku.&lt;br /&gt;Seketika jantungku bekerja lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku mohon Hayde... " ucap Sean serius. &lt;br /&gt;" Bisakah kau percaya padaku, bahwa kau tidak akan pernah sendiri, bahwa aku akan selalu melindungimu, bahwa aku selalu menjagamu walaupun itu harus mempertaruhkan nyawaku?!!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpana mendengar kata-katanya. Mataku seolah tak beralih dari Sean. Tiba-tiba dadaku sesak dipenuhi oleh rasa haru, rasa bahagia semua melebur jadi satu. Aku begitu terharu sampai tak bisa berkata-kata. Semua seperti sebuah mimpi, mimpi yang begitu indah. Sean pun tersenyum padaku aku pun membalasnya. Ia lalu memelukku mengalirkan sebuah kehangatan yang tiada tara ke tubuhku. Aku benar-benar hanyut dalam perasaan bahagia.&lt;br /&gt;Sean mempererat pelukannya. Kami hanya terdiam satu sama lain tanpa kata tapi itu sudah cukup bagiku untuk mengerti bahwa kami saling mencintai. Aku berjanji akan membuatmu bahagia Sean. Aku akan berubah, janjiku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Wah...wah benar-benar sangat romantis sekali!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak mendengar suara itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-2914204400956943403?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/2914204400956943403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2010/04/heart-of-sword-part-17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/2914204400956943403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/2914204400956943403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2010/04/heart-of-sword-part-17.html' title='Heart of Sword part 17'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-7321945217463233282</id><published>2010-04-20T00:37:00.004+08:00</published><updated>2010-04-20T15:01:47.764+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 16'/><title type='text'>Heart of Sword part 16</title><content type='html'>Darahku terkesiap.&lt;br /&gt;" Aku tidak mengerti!?"sahutku." Aku benar-benar tidak mengerti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa kau lupa Artemis? Berapa banyak orang yang sudah kau bunuh...demi nafsumu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam, tanganku bergetar, kepalaku berputar. Bayangan mengenai pembunuhan, orang-orang yang aku bunuh. Mereka yang minta agar aku tidak membunuh, namun aku tetap membunuh mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Jadi...apa kau masih merasa suci??"tanyanya  mengejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Diam kau Kapten! Aku memang bukan manusia suci..." ucapku&lt;br /&gt;" Tapi aku lakukan demi harga diriku, demi Ayahku!? Maka dari itu aku harus membunuhmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu mengacungkan pedang ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau mau membunuhku? Silahkan?" ujarnya sambil merentangkan kedua tangannya.&lt;br /&gt;" Tapi setelah kau membunuhku, kau akan menjadi manusia keji melebihi diriku, dan tentunya Ayahmu akan sangat kecewa sekali, ia pasti tak akan pernah menyangka bahwa putrinya adalah seorang pembunuh berdarah dingin"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam, keragu-raguan mulai muncul di benakku. Kalau aku tak membunuh kapten &lt;br /&gt;aku tak bisa membayar nyawa Ayahku.Tapi kalau aku membunuhnya, itu berarti aku tak lebih kejam dari Kapten. Selain itu juga berarti aku menentang prinsip Ayahku yang cinta akan kedamaian dan membenci peperangan. Kuurungkan niatku untuk membunuhnya. Aku memandang Kapten yang kini hampir sekarat itu. &lt;br /&gt;Namun aku dapat melihat dengan jelas senyum diwajahnya. Entah apa makna dari senyuman itu. Kemudian kuputuskan untuk berbalik pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" CREPPPP....!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah segar mengalir dari tubuh Kapten, membasahi bajunya. Pedangku menghunus tepat di jantungnya.&lt;br /&gt;Aku sudah menduga bahwa Kapten berusaha membunuhku ketika aku akan pergi. Tapi sebelum Ia sempat melakukannya, aku berhasil menusuknya dari belakang. Kapten pun ambruk seketika. Nyawanya pun melayang.&lt;br /&gt;Kini tubuh itu terbujur kaku tak berdaya. &lt;br /&gt;Tetesan darah kapten masih menetes pada ujung pedang milik Ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap tubuh yang tak bernyawa itu dengan tatapan kosong. Sosok tubuh itu telah mati. Kini selesai sudah. Semua telah berakhir.&lt;br /&gt;Aku lalu pergi keluar dari kamar kapten, dan aku berjanji tak akan pernah kembali lagi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari bersembunyi di balik kelamnya awan. Langit begitu gelap, pertanda akan hujan.&lt;br /&gt;Aku berlutut memandangi nisan kedua orang tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ayah! Ibu lihatlah putrimu ini...lihatlah putrimu yang menghadap ini!!! Kenapa kalian meninggalkan aku sendirian?!!! Kenapa kalian membiarkan aku menanggung derita"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa air mataku mengalir membasahi pelupuk mataku. Aku benci menangis. Namun aku tak kuasa menahan rasa sedih dihatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ayah! Lihatlah aku Ayah!? Aku tidak menjadi seperti yang kau harapkan, Aku telah membunuh banyak orang!!!&lt;br /&gt;Ibu! katakan padaku bagaimana aku menebus semua itu?? Apa aku harus membunuh diriku???"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua nisan itu tetap diam membisu.&lt;br /&gt;Membiarkan aku tenggelam dalam tangisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ayah! Ibu..! Apa yang aku lakukan untuk membersihkan darah kotorku! Bagaimana aku harus menebus semua itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi kedua nisan itu hanya membisu membiarkanku hanyut dalam penyelasan yang tiada tara. &lt;br /&gt;Aku begitu kalut, sampai aku tak tahu harus berbuat apa. Jiwaku begitu hancur dan rapuh. Bayangan orang-orang yang aku bunuh berkelabat di benakku seolah menuntut balas. Untuk apa lagi aku hidup? Aku tak pantas lagi! Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hidup ini.&lt;br /&gt;Kemudian Aku mencabut pedang yang tersangkut di pinggangku. &lt;br /&gt;Aku menghela nafas panjang.&lt;br /&gt;" Selamat tinggal dunia..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-7321945217463233282?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/7321945217463233282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2010/04/heart-of-sword-part-16.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/7321945217463233282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/7321945217463233282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2010/04/heart-of-sword-part-16.html' title='Heart of Sword part 16'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-3842917025732621337</id><published>2010-04-19T23:18:00.000+08:00</published><updated>2010-04-19T23:18:07.126+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 15'/><title type='text'>Heart of Sword part 15</title><content type='html'>" Karena kau sangat mirip dengan Ibumu.."jawab Kapten. &lt;br /&gt;" Aku tidak bisa lupa dengan ibumu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Romantis sekali...!!!"ucapku sarkastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Selain itu juga kau bisa kuperalat dan kujadikan anak buah. Jadi ku katakan padamu bahwa Orricus yang telah membunuh Ayahmu, agar kau merasa benci dan dendam padanya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" MANUSIA BIADAP!!! KEPARAT!!!" umpatku&lt;br /&gt;" Kau memperalatku!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ha..ha..ha itu karena kau bodoh...hanya mengikuti dendammu, wanita bodoh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataannya membuat kesabaranku habis.&lt;br /&gt;" Tak akan kubiarkan manusia licik sepertimu hidup...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu mengayunkan pedangku ke arahnya. Dengan sigap dia menghindar dengan mudahnya. Aku terus menyerangnya. Namun perlawananku tampak tidak berarti apa-apa untuknya. Kapten lalu menendang tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" BRUKKK....!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku terbanting mengenai meja, tendangannya mengenai ulu hatiku. Akibatnya aku memuntahkan darah segar dari mulutku. Kapten tersenyum sinis memandangku, aku semakin muak melihat wajahnya, lalu aku bangkit untuk menyerangnya lagi, tak kuhiraukan rasa sakit yang mendera tubuhku. Aku segera mengambil pedangku yang terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" HIIIAAATTT...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyerangnya lagi. Serangan bertubi-tubi kulancarkan padanya. Namun dengan kelihaian kapten ia berhasil menghempas pedangku dan terjatuh sejauh dua meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sudah kubilang kau bukan tandinganku wanita bodoh!?" Ucapnya sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten melangkah maju, aku pun mundur ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Seandainya kau tak melawanku Artemis, tentu kau tak akan merasakan sakit yang akan kau rasakan kini..." ucapnya sambil menjilat pedangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun mulai mendekatiku. Aku terus mundur ke belakang, sampai akhirnya aku terdesak ke tembok. Entah kenapa aku begitu takut. Suatu hal yang tak pernah aku rasakan ketika berhadapan dengan semua lawanku. Tubuhku gemetar, aku tidak bisa bergerak, apa yang harus kulakukan sekarang? &lt;br /&gt;Tiba-tiba aku teringat racun pemberian Lelouch. Ya..Racun yang dapat melumpuhkan lawan. Aku merogoh racun itu dalam sakuku.&lt;br /&gt;Ketika Kapten mulai mendekat segera ku lempar racun itu ke wajahnya. Seketika itu pula ia memegang wajahnya sambil mengerang kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa yang kau lakukan??" teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Racun itu cepat bereaksi kulihat wajahnya terkelupas. Tanpa pikir panjang segera kutendang perutnya dan kusambar pedangku yang terjatuh ke arah pinggangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" SRETTTT...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah segar mengalir dari tubuh kapten. Membasahi bajunya. Kapten pun terhuyung ke belakang dan jatuh ke belakang. Ia mengerang kesakitan sambil memegangi pinggangnya. Racun Lelouch membuat kulit wajahnya menjadi seperti monster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sekarang kau tak bisa bergerak lagi, Kapten!" kataku tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuacungkan pedang ke wajahnya.&lt;br /&gt;" Hari ini akan kubalaskan nyawa Ayahku padamu!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten memandang wajahku seulas senyum sinis tersungging di bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau mau membunuhku? Apa kau bisa?" ujarnya mengejek.&lt;br /&gt;" Melindungi dirimu saja tak bisa, mau membunuhku..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tercekat mendengar perkataan Kapten. &lt;br /&gt;" Apa maksudmu?? Kau meremehkan aku? tanyaku dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tak sadarkah kau selama ini, Artemis? Kau itu perempuan yang lemah!!!"&lt;br /&gt;ujar Kapten.&lt;br /&gt;" Makanya Ayahmu tak pernah mengajarkan ilmu pedangnya padamu, karena dia tahu kau itu lemah!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mematung. Sambil menatap tajam mata Kapten.&lt;br /&gt;" Kau bohong! Kau pasti cuma menipuku! Kau pikir aku percaya dengan kata-kata busukmu itu!??"desisku sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten tertawa kecil membuat aku semakin gusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau tak percaya juga? Kau kira kenapa Ayahmu tak mengajarkan pedang padamu, heh..??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam. Menunggu perkataan kapten selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ayahmu tahu kau memiliki penyakit sejak kecil. Dan menurut tabib, penyakit itu sulit disembuhkan.." kata Kapten.&lt;br /&gt;" Dia tidak ingin kehilangan dirimu. Apalagi kau mirip dengan almarhum ibumu. Makanya kau tak pernah diajarkan ilmu pedangnya. Kau itu tak ada apa-apanya jika tidak ada aku! Karena kau itu lemah!!!"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;" SUDAH CUKUP!!! AKU TAK MAU DENGAR!!!" teriakku sengit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;" Seharusnya kau berterima kasih padaku, karena tanpa aku kau tak akan menjadi kuat!!!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa...??!! Aku harus berterima kasih pada kau??" teriakku.&lt;br /&gt;" Buat apa kapten? Buat apa aku berterima kasih pada pembunuh berdarah kotor macam kau!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten menyeringai.&lt;br /&gt;" Kau bilang aku kotor... Lalu kau sebut apa dirimu... manusia suci??"ucapnya sarkastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Jaga kata-katamu kapten!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Oh, kau masih tak menyadarinya Artemis...Kau pura-pura bodoh atau memang bodoh? kau dan aku tak ada bedanya Artemis... Kau dan aku adalah pembunuh..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-3842917025732621337?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/3842917025732621337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2010/04/heart-of-sword-part-15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/3842917025732621337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/3842917025732621337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2010/04/heart-of-sword-part-15.html' title='Heart of Sword part 15'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-6437750196180303028</id><published>2010-04-03T17:16:00.000+08:00</published><updated>2010-04-03T17:16:03.225+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of sword part 14'/><title type='text'>Heart of sword part 14</title><content type='html'>Tubuhku bagai tersengat ribuan listrik. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Aku merasa buku-buku jariku memutih karena marahnya. Aku tak menyangka orang yang aku hormati, ternyata seorang pembunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kenapa kau membunuh Ayahku?? Kenapa?? Padahal kau temannya!!!" teriakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten tersenyum kecil. Membuat otakku semakin mendidih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya, Ayahmu memang sahabatku...Tapi itu dulu, sebelum dia merebut semuanya dariku!" kata kapten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa maksudmu!??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"  Ya...Dulu, Ayahmu dan aku sama-sama menjabat sebagai prajurit pilihan Raja Orricus. Waktu itu  Orricus mengadakan pemilihan salah satu diantara kami berdua, untuk menjadi pemimpin" kata Kapten.&lt;br /&gt;" Tapi rupanya ia lebih memilih Ayahmu dibandingkan aku. Padahal kemampuanku lebih baik darinya. Apalagi melihat dia mendapatkan pedang legendaris itu... Membuatku sangat iri!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Pedang legendaris??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya... Pedang yang kau pegang itu, adalah pedang legendaris. Merupakan suatu kebanggaan bagi prajurit jika mendapatkannya"&lt;br /&gt;ujar Kapten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hanya karena kau tak mendapatkan pedang itu, kau tega membunuh Ayahku!!?"tanyaku sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Bukan itu saja... " seru kapten.&lt;br /&gt;" Tetapi karena dia juga telah merebut wanita yang aku cintai. Ya... Wanita itu adalah ibumu!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tercekat. Kemudian kapten menerawang. Ada rasa kebencian dan sakit hati di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku sangat menyukai ibumu...bahkan rela melakukan apa saja untuknya"ujar kapten.&lt;br /&gt;" Aku begitu bahagia ketika tahu dia menyukaiku juga. Waktu itu aku berniat melamarnya. Tapi karena aku ditugaskan Orricus untuk perang, maka aku putuskan untuk melamarnya ketika pulang dari perang nanti! Aku begitu bahagia ketika dia berkata' Aku akan menunggumu!' kata-katanya  membuatku ingin cepat-cepat melamarnya. Aku mengira tugas kali ini sama seperti biasa.Tapi dugaanku salah. Musuh lebih kuat dari yang kami bayangkan!" cerita Kapten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kami menderita kekalahan. Banyak prajurit yang tewas di pihak kami. Musuh terus berdatangan. Aku segera melarikan diri. Tanpa sengaja aku terpeleset dan jatuh dari tebing. Aku mengira akan mati ketika jatuh, tapi ternyata aku selamat. Namun akibat insiden itu, kakiku mengalami patah tulang. Sehingga aku tidak bisa berjalan. Saat itu benar-benar seperti mayat hidup..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam. Seolah-olah terbawa pada masa lalunya yang kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku tidak tahu sudah tahun ke berapa, sudah berapa hari aku lewatkan, yang kutahu siang dan malam berganti begitu cepat... Disela-sela penderitaanku, aku masih sempat memikirkan bagaimana keadaan ibumu. Dengan bayang-bayang ibumulah menjadi sumber kekuatan bagiku. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Akhirnya dengan sisa kekuatan yang aku punya, ku putuskan untuk melangkah meski harus jatuh bangun berapa kali..." cerita kapten.&lt;br /&gt;" Aku begitu gembira ketika sampai di depan rumah ibumu walau dengan susah payah. Aku berniat untuk melamarnya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba raut wajah kapten berubah. Matanya benar-benar memancarkan kebencian yang teramat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tapi harapan itu sirna, manakala aku melihat ibumu keluar dari rumahnya bersama Ayahmu"ujar Kapten sengit.&lt;br /&gt;" Aku merasa dunia menjadi hancur, dan terpuruk. Betapa tidak, sahabatku telah mengkhianatiku! Akhirnya aku pergi dari tempat itu dengan berjuta amarah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten menghela nafas. Mencoba menekan emosinya kemudian ia berbicara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Setelah aku selediki ternyata Orricuslah yang menyebar berita tentang kematianku...bagaimana dia bisa menarik kesimpulan bahwa aku mati bahkan dia tidak menemukan mayatku!!!" terdengar nada putus asa disuaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tapi, kenapa kau bunuh Ayahku? Ayahku tidak bersalah...dia tidak tahu kalau kau masih hidup?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tidak bersalah? Merebut kekasih sahabatnya sendiri kau bilang tidak salah??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam. Tak tahu harus mengatakan apa. Begitu sulit, tapi aku tidak terima dia yang membunuh Ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tapi...kau tak perlu membunuh Ayahku kan?"tanyaku sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Itu adalah balasan atas penderitaanku...agar kalian bisa merasakan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kenapa kau tidak membunuhku sekalian? Kenapa kau biarkan aku hidup!!?" teriakku suaraku hampir bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Karena kau sangat mirip dengan Ibumu.."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-6437750196180303028?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/6437750196180303028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2010/04/heart-of-sword-part-14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/6437750196180303028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/6437750196180303028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2010/04/heart-of-sword-part-14.html' title='Heart of sword part 14'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-7864758885252772470</id><published>2010-04-02T23:08:00.003+08:00</published><updated>2010-04-02T23:15:37.033+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of sword part 13'/><title type='text'>Heart of sword part 13</title><content type='html'>Kulangkahkan kakiku cepat-cepat. Aku harus bicara pada kapten tentang kebenaran siapa yang membunuh Ayahku. Aku harus bicara meskipun Kapten tak suka. Ku ketuk pintu kamar kapten. Namun tak ada jawaban. Segera aku pegang gagang pintunya. Rupanya tak terkunci. Lalu aku masuk ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kapten??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak ada jawaban sama sekali. Ruangan itu kosong. Ketika aku hendak berbalik, kulihat pintu rahasia yang sering disebut-sebut di sudut kiri.&lt;br /&gt;Entah kenapa hatiku tergerak untuk mengetahui isinya. Akhirnya setelah perang batin, aku mendekati pintu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tidak terkunci!?" gumamku ketika membukanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkagum-kagum melihat isinya. Berbagai barang antik yang terbuat dari emas, baju zirah yang gagah. Serta barang-barang lainnya, yang harganya mahal sekali. Aku terus menyusuri ruangan itu. Mataku terpaku pada sebuah pedang di atas meja. Segera kupegang pedang itu dan ku buka sarungnya. Betapa terkejutnya diriku saat kubuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ini kan pedang milik Ayahku? Kenapa ada di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenal betul karena pedang Ayahku memiliki ukiran Singa di pegangannya, dan pedang itu sama persis dengan yang aku pegang saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tidak mungkin! Kenapa pedang ini ada di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku terus berputar.&lt;br /&gt;Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Tampak Kapten muncul  dengan wajah tak senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa yang kau lakukan disitu?" selidiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya yang pucat itu semakin pucat ketika melihatku memegang pedang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kapten, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pedang ini ada di sini? Kau bilang Orricus yang mengambilnya?"&lt;br /&gt;Aku memuntahkan berbagai macam pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu kapten menjawab pertanyaanku. Namun dia malah tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Akhirnya ketahuan juga!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerutkan keningku tak mengerti.&lt;br /&gt;" Aku tidak mengerti apa maksudmu kapten!!?" sahutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya memandangiku dengan sorot mata kebencian.&lt;br /&gt;" Akulah yang telah menyebabkan kematian Ayahmu!!!"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-7864758885252772470?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/7864758885252772470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2010/04/heart-of-sword-part-13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/7864758885252772470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/7864758885252772470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2010/04/heart-of-sword-part-13.html' title='Heart of sword part 13'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-595694371994560059</id><published>2009-09-27T17:19:00.006+08:00</published><updated>2009-09-28T00:17:15.839+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 12'/><title type='text'>Heart of Sword part 12</title><content type='html'>" Sudah lama ya, kita tak bertemu?" ucapnya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean tersenyum kecil, ada kepedihan dalam senyumnya. Suatu yang tak pernah aku lihat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya... Meskipun dalam keadaan yang tak menyenangkan... Tapi aku senang, bisa bertemu denganmu lagi!"&lt;br /&gt;ujar Sean.&lt;br /&gt;" Apa kau tahu Hayde? Selama aku berlatih pedang, aku selalu memikirkanmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leherku terasa tercekik. Apa? Sean memikirkanku? Apa aku tak salah dengar? Sean kemudian menerawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Dulu aku merasa hidup ini tak ada artinya. Semua orang sama, hanya menilai orang dari luarnya saja. Mereka tidak mau berteman denganku karena  mengira aku pengacau yang suka berkelahi. Padahal aku berkelahi karena membela harga diri.." ujar Sean. &lt;br /&gt;" Tak ada yang percaya padaku. Aku benar-benar merasa kesepian. Sampai akhirnya seseorang menerimaku dan dia menyebutku pahlawan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun mendengarnya. Sean kemudian menatapku lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Entah mengapa aku begitu senang ketika kau menyebutku pahlawan karena aku merasa akhirnya aku bukan si pengacau lagi!" ujarnya.&lt;br /&gt;" Makanya selama bertahun-tahun aku berlatih pedangku, agar menjadi lebih kuat. Dan menjadi pahlawan bagimu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam.Ternyata omonganku sepuluh tahun yang lalu telah membuatnya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kenapa kau lakukan itu semua Sean?? Kenapa? Buat apa kau lakukan Kalau kau cuma ingin agar aku menyebutmu pahlawan. Itu sia-sia saja Sean?!? Sia-sia!!" tanyaku hampir berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Bukan itu saja Hayde...tapi karena aku juga mencintaimu.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Sean begitu lugas menghantamku seperti pukulan keras yang membuatku terhempas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku mencintaimu sejak sepuluh tahun yang lalu. Waktu kita masih kecil...Dan aku tidak pernah berhenti mencintaimu hingga kini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mampu berkata-kata lagi. Mataku berkaca-kaca menatapnya. Sean lalu menarikku ke dalam pelukannya. Aku bisa merasakan kehangatan tubuh Sean di pelukannya. Entah berapa lama aku tak pernah merasakan kelembutan dari seseorang. Perlahan-lahan kebencian dan dendam yang selama ini aku pendam, sirna seiring dengan jatuhnya tetesan air mataku. Aku merasa pertahanan hatiku lemah bagaikan es yang mencair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak!! Aku tidak boleh begini!!? Aku bukan Hayde yang lemah, tapi aku Artemis yang kuat. Seolah mendapat kekuatan kembali, segera kulepaskan pelukannya dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tidak Sean!!! aku bukan Hayde sepuluh tahun yang lalu. Aku berbeda!!! Aku Artemis yang datang untuk membalas kematian orang tuaku, karena Ayahmu telah membunuhnya!" teriakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hayde dengar! Ayahku tak pernah membunuh siapapun!!?" sahutnya. &lt;br /&gt;" Percayalah padaku!?! Lagipula &lt;br /&gt;darimana kau yakin kalau Ayahku pelakunya?" tanya Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ada yang melihatnya... Dan kau tak perlu tahu!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Percayalah Hayde!!! Aku kenal betul siapa Ayahku...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" TIDAK!!? AKU TIDAK PERCAYA!!! " pekikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?? Apa kau ingin membalasnya?" tanya Sean tiba-tiba. Aku terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Baik... Kalau itu maumu!" ujarnya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean lalu mengambil pedangnya kemudian melemparkannya jauh-jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku sudah membuangnya... &lt;br /&gt;Kau bisa membunuhku sekarang!" ujar Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku termangu.  Dia minta aku membunuhnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tunggu apa lagi...? Kau bilang ingin membunuhku kan!??" tantangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget mendengar perkataanya. Namun rupanya amarah telah menguasai jiwaku. Kucabut pedangku, lalu kuayunkan ke arahnya. Dia hanya berdiri tak menghindar. Namun gerakkanku terhenti. Tubuhku terasa kaku, tanganku bergetar. Aku tak bisa membunuhnya!&lt;br /&gt;Aku tidak bisa!&lt;br /&gt;Lalu aku berlari meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Haydee...!!! Tunggu!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean berusaha mengejarku, mencoba meraihku. Segera kulempar kabut asap untuk menghilangkan jejak. Sehingga Sean tak bisa mengejarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" HAYDEEE...!!!" teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus berlari. Maafkan aku Sean, tapi aku harus pergi. Aku tak mempedulikan teriakannya. Aku ingin berlari, dan terus berlari menjauhinya.&lt;br /&gt;Kenapa semua ini terjadi? Apa kau mengatakan sebenarnya? Bisakah aku mempercayaimu Sean? Air mataku terus meleleh di pipiku, tanpa bisa aku hentikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-595694371994560059?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/595694371994560059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-12.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/595694371994560059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/595694371994560059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-12.html' title='Heart of Sword part 12'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-7427720625514747902</id><published>2009-09-27T17:03:00.005+08:00</published><updated>2009-09-27T17:14:48.928+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 11'/><title type='text'>Heart of Sword part 11</title><content type='html'>Cahaya matahari hangat menerobos masuk lewat celah-celah lubang.&lt;br /&gt;Aku segera bangkit, ku buka pintu gudang.&lt;br /&gt;Aman! Tidak ada penjaga yang lewat.&lt;br /&gt;Kulangkahkan kakiku pelan-pelan, mataku mengawasi setiap detil Istana. Kemudian aku menuruni tangga lantai dasar. Ada sebuah pintu  belakang di sudut kiri. Segera aku buka, tampaklah taman yang hijau dan bunga-bunga yang bermekaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan mengitari taman, kulihat seorang laki-laki duduk di bangku taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hei, itu kan laki-laki yang kemarin menyerangku!?" gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera bersembunyi di balik pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hm... Ada tamu rupanya!?" seru Laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mengerti apa yang dimaksudkannya. Mungkin dia sedang berbicara dengan seseorang pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku tahu kau ada di balik pohon itu" kata Laki-laki itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialan, aku ketahuan umpatku dalam hati.&lt;br /&gt;Akhirnya aku keluar dari persembunyianku.  &lt;br /&gt;" Kau sudah tahu rupanya?" sahutku sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya... Aku tahu kau pasti datang" ujar Laki-laki itu sambil beranjak berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat lengan kirinya yang terluka sudah di perban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Urusan kita belum selesai!" ujarku" Kau beruntung karena cuma lenganmu yang kulukai"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memandangiku, entah kenapa pandangan matanya membuat hatiku tak tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau telah menjadi orang yang berbeda" ujar laki-laki itu.&lt;br /&gt;" Menjadi lebih kuat..."&lt;br /&gt;kemudian Ia terdiam sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya, kan Hayde?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tercekat. Kupandangi laki-laki di hadapanku.&lt;br /&gt;Dari mana dia tahu nama masa kecilku? batinku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Siapa kau sebenarnya??" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu tak menjawab. Ia malah mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya.&lt;br /&gt;Sebuah seruling!&lt;br /&gt;Ia kemudian memainkan seruling itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alunan suaranya terdengar jelas di telingaku. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, aku mengenali suara ini. Mataku terpaku menatap sosok Laki-laki di hadapanku. Matanya bersinar lembut seiring dengan bunyi Serulingnya. Bibirnya begitu ahli memainkan seruling itu.&lt;br /&gt;Aku seperti tersihir. Tiap alunan melodi yang lembut itu merasuki jiwaku.&lt;br /&gt;Aku terdiam, dadaku terasa sesak. Tak terasa air mataku menetes.&lt;br /&gt;Perlahan-lahan alunan Seruling itu berhenti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kini kau sudah tahu siapa aku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya memandangiku. Sorot matanya begitu lembut sampai aku merasa sesak. &lt;br /&gt;Untuk beberapa saat kami hanya berdiri saling memandang. Terasa begitu lama sampai akhirnya aku menemukan suaraku kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Seaaan..." suaraku bergetar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mataku tak kuasa terbendung. &lt;br /&gt;Laki-laki yang tak lain Sean itu mendekatiku. Kemudian Ia menyeka air mataku. Kubiarkan Ia melakukannya. Dan seolah terbangun oleh sentuhan itu. Aku mendongak menatapnya.&lt;br /&gt;Aku terpaku. Mata itu, mata cokelat bening yang bisa menyihirku. Rasa perih memenuhi rongga dadaku. Betapa saat ini aku ingin menjerit. Tak tahukah betapa aku begitu merindukanmu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-7427720625514747902?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/7427720625514747902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-11_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/7427720625514747902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/7427720625514747902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-11_27.html' title='Heart of Sword part 11'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-4185305830040949356</id><published>2009-09-27T16:52:00.004+08:00</published><updated>2009-09-27T17:00:25.866+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 10'/><title type='text'>Heart of Sword part 10</title><content type='html'>Aku segera berlari, para pengawal itu terus mengejarku. Jumlah mereka terlalu banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Artemis...aku disini!!!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutoleh wajahku ke arah sumber suara. Kulihat Lelouch bersembunyi di balik tembok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Lelouch? Kau disitu?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Cepat kesini!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera mendekati Lelouch. Tepat saat itu para pengawal istana datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Untung mereka tidak melihat kita" kata Lelouch saat para pengawal pergi.&lt;br /&gt;" Apa kau sudah membunuh Orricus?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;" Tapi aku berhasil melukai putranya" bisikku.&lt;br /&gt;" Bagaimana dengan yang lain?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kita kalah jumlah" sahut Lelouch. &lt;br /&gt;" Mereka menambah pasukan lagi tanpa kita duga!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Orricus sudah mengetahuinya. Brengsek! umpatku dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Lebih baik kita pergi dari sini!!?" ujarnya Sambil menarik tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera melepaskan tangannya.&lt;br /&gt;" Tidak! Aku tidak akan pergi!" sahutku.&lt;br /&gt;" Aku mau tetap disini!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ayolah Artemis... jumlah mereka terlalu banyak" Kata Lelouch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku tidak peduli!!!" kataku bersikeras&lt;br /&gt;" Aku tidak akan pulang sebelum aku membunuh Orricus. Lagipula aku sudah janji pada Kapten!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelouch menatapku lekat-lekat.&lt;br /&gt;Melihat kesungguhanku akhirnya Lelouch mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Baiklah, aku tidak akan memaksamu." ujar Lelouch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa itu?" tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ini racun yang dapat melumpuhkan lawan. Kau bisa gunakan ini untuk membunuh Orricus!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu menerima racun pemberian Lelouch itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Berhati-hatilah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya...Kau juga! Tolong beritahu kapten!" kataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelouch mengangguk, sejurus &lt;br /&gt;Kemudian Lelouch pergi meninggalkanku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku lalu mengendap-ngendap, agar tidak ketahuan para pengawal istana itu. Namun aku merasa kakiku terkilir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Huh!!? Pasti karena jegalan laki-laki tadi!?" gumamku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tidak mau aku harus istirahat.&lt;br /&gt;Kemudian aku mencari tempat agar aku bisa beristirahat. Tanpa sengaja aku menemukan sebuah gudang yang tak terpakai. Segera kumasuki gudang itu. &lt;br /&gt;Ruangannya sangat sempit dan pengap. Aku lalu duduk dan menyandarkan tubuhku pada dinding. Tiba-tiba saja terbayang sosok laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kenapa tadi dia tak membunuhku? Padahal bisa saja dia langsung menghabisiku? dan kenapa dia terkejut melihat kalungku? Siapa dia sebenarnya?" &lt;br /&gt;pikirku tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Sampai akhirnya, aku pun tertidur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-4185305830040949356?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/4185305830040949356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/4185305830040949356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/4185305830040949356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-10.html' title='Heart of Sword part 10'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-2312001458450273232</id><published>2009-09-27T16:13:00.005+08:00</published><updated>2009-09-28T00:02:30.331+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 9'/><title type='text'>Heart of Sword part 9</title><content type='html'>Mata cokelatnya menatapku tajam dengan seringainya yang dingin dan menusuk. Entah mengapa aku merasa pernah melihatnya. Tubuhnya tinggi dan tegap, dia sangat tampan. Namun begitu aku melihat kalung segitiga di lehernya, pikiranku segera aku tepiskan.&lt;br /&gt;Pasti dia bagian dari kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Siapa kau?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Seharusnya aku yang bertanya padamu, siapa kau? Berani-beraninya menyusup ke istanaku" ujarnya. Ia lalu melangkah mendekatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau tak perlu tahu!!!" kataku ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya...ya... Aku memang tak tahu siapa kau!Tapi yang aku ingin tahu, kenapa kau membuat kekacuan disini!!!" ujarnya dingin.&lt;br /&gt;Dia pun menghela nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau tahu? Apa yang kau lakukan tadi, layaknya anjing yang mengendap-ngendap mencari mangsa"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkelap mendengarnya, kata-katanya menusuk tulang rusukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau pikir kau hebat? Sehingga bisa mengataiku begitu??" ucapku ketus." Jangan merasa kau memiliki wajah tampan, jadi kau bisa berkata seenaknya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu tersenyum tipis.&lt;br /&gt;" Oh... Rupanya kau menyadari ketampananku juga!? Tapi maaf, aku tak butuh pujianmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ampun! Laki-laki ini GR sekali sih. Siapa juga yang muji dia! Batinku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sudahlah... Aku tidak mau berdebat. Aku kesini karena aku ingin membalas dendam, kau telah membunuh Ayahku!!" kataku dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu mengerutkan keningnya.&lt;br /&gt;" Sepertinya kau salah orang, aku tak pernah membunuh Ayahmu" ujarnya mengelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Huh! Masih belum mengaku juga!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu mencabut pedangku, kemudian ku arahkan padanya. Dengan sigap dia melompat ke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ketahuilah aku tidak pernah membunuh Ayahmu!" ulangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mungkin kau tidak, tapi Ayahmu ya!! Dan menurutku itu sama saja!!!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun melompat, kugerakkan pedangku ke arahnya. Dia memutar tubuhnya kemudian melompat, dengan secepat kilat dia menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kemana dia??" pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" HIATTTT....!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa aku sadari dia sudah ada di belakangku sambil mengacungkan pedang. Aku refleks menghindar. Dia lalu menyerangku bertubi-tubi tak memberiku kesempatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" BRETTT....!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topengku terbelah menjadi dua dan jatuh ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Rupanya kau seorang perempuan?" ujarnya sinis.&lt;br /&gt;" Tapi aku tidak akan membiarkanmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia mencengkram pergelengan tangan kiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Brengsek kau!!!" umpatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu mengayunkan pedangku dengan tangan kanan ke tubuhnya. Tapi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" TRANG...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedangku terjatuh karena hempasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Lepaskan aku!" teriakku sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tidak akan!!!" ujarnya cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugigit tangannya, refleks dia melepaskan cengkremannya. Tapi dia tak menyerah, dia pun menjegal kakiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" BRUKK...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun terjatuh ke lantai. Mataku terbelalak kaget, badanku tak bisa bergerak.Tiba-tiba saja pedangnya sudah menempel di leherku. Aku merasakan tubuhku kaku. Dia pasti akan membunuhku! Aku pasrah ketika dia mengacungkan pedangnya. Namun gerakannya terhenti seketika. Kenapa? Kenapa dia berhenti? Pikirku.&lt;br /&gt;Entah kenapa gerakannya terhenti ketika melihat kalung yang aku pakai. Kulihat wajahnya penuh keterkejutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kalung itu..." desisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun segera mengambil kesempatan, kutendang perutnya dan segera kusambar pedangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" SRETTT...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu meringis kesakitan. Ujung pedangku telah melukai lengan kirinya. Darah pun menetes perlahan-lahan dari lengannya. Aku lalu menyerangnya tanpa ampun. Namun anehnya, dia sama sekali tak membalas seranganku. Dia hanya menghindar. Aku terus menyerangnya, namun lagi-lagi dia hanya menghindar.&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki menderum seperti kawah gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengawal istana! Aku segera berlari meninggalkan laki-laki itu. Kulihat dia terus memandangi kepergianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hayde..."ucapnya lirih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-2312001458450273232?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/2312001458450273232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-9.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/2312001458450273232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/2312001458450273232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-9.html' title='Heart of Sword part 9'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-119583954141579496</id><published>2009-09-27T12:07:00.007+08:00</published><updated>2009-09-27T16:08:51.276+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 8'/><title type='text'>Heart of Sword part 8</title><content type='html'>Kuamati diriku di depan cermin. Diriku yang sekarang sungguh berbeda.Tampak Kini aku menjadi lebih kuat. Entah sejak kematian orang tuaku, hatiku diliputi rasa benci dan dendam. Aku tidak ingat berapa puluh orang yang sudah aku bunuh, demi melampiaskan nafsuku. Kapten mengajariku cara melampiaskan dendam yaitu dengan cara membunuh. Berbeda sekali dengan dulu, aku tak pernah sekalipun memegang pedang. Tapi sekarang sudah seperti makanan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya... Aku bukan lagi Hayde yang lemah. Tapi sekarang aku Artemis yang kuat!" gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu mengambil pedang yang tergantung di dinding. Kemudian kusangkutkan di pinggang. Setelah berlatih cukup lama akhirnya tiba hari, dimana aku bisa membalaskan dendamku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tampaknya kau sudah siap Artemis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terperanjat, lalu aku pun menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kapten??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten perlahan-lahan mendekatiku. Seperti biasa tatapannya sangat dingin dan menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku ingin kau menyusup ke istana Orricus" ujarnya. " Lelouch dan para anak buahku sudah menunggumu di bawah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha menatap mata kapten yang dipenuhi kilatan kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ini tugas penting..." ujar Kapten.&lt;br /&gt;" Aku tidak mau sampai gagal"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya kapten!" kataku penuh hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu mengambil topeng di dekat meja. Sudah menjadi kebiasaan&lt;br /&gt;kami jika berperang selalu menggunakan topeng. Agar sosok kami tidak mudah dikenali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Artemis...Aku ingin kau tidak mengecewakanku" kata kapten lagi.&lt;br /&gt;" Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tenang saja kapten. Aku akan membunuhnya! Kalau perlu akan kubuat mayatnya tak akan di kenali lagi!!!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten tersenyum.&lt;br /&gt;" Bagus!! Sekarang pergilah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menganggukan kepala, lalu beranjak dari kamarku. Kemudian menuruni tangga untuk bergabung dengan Lelouch. Kulihat Lelouch dan anak buahnya sudah siap di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Bagaimana, apa kau sudah siap?" tanya Lelouch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya...Tentu saja. Ini hari yang aku tunggu-tunggu dari dulu" ujarku penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Baiklah kalau begitu kita harus bergegas" seru Lelouch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. &lt;br /&gt;Kami pun segera berangkat menuju istana Orricus. Istana itu sangat kokoh dan tinggi. Hingga puncaknya hampir menembus langit. Di sekelilingnya dilindungi pagar yang tinggi pula. Ada bentuk segitiga di ujung menaranya, tanda kerajaan Orricus.  Kami pun bersembunyi di balik semak-semak. Istana itu tidak terlalu ramai. Hanya tampak beberapa prajurit istana bersiaga di depan gerbang. Rupanya mereka tidak mengetahui kalau istana mereka dalam bahaya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelouch lalu mengacungkan pedang ke depan, tanda bergerak maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" SERAAANG....!!! Teriak Lelouch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun segera menyerbu pasukan pengawal istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" AAAAAAA.....!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara jeritan yang memilukan. Darah segar keluar dari tubuh seorang prajurit, membanjiri tanah.  Perang telah dimulai. Aku menebas tubuh pengawal yang menyerangku. Ia pun terkapar tak berdaya. Kami pun segera masuk ke halaman istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ada penyusup!!!" teriak salah seorang prajurit istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan prajurit pun berdatangan dari setiap penjuru istana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" BRETTT...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" AAAAAA....!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban-korban mulai berjatuhan di kedua belah pihak. Darah berceceran dimana-mana.&lt;br /&gt;Sementara Lelouch menghabisi para prajurit. Aku segera bergerak masuk ke istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Besar sekali istana ini" pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istana ini di penuhi lorong dan tangga. Entah berapa banyak tangga yang telah aku lewati. Mataku tetap bergerak mengawasi setiap ruangan. Kulihat dua penjaga di depan pintu. Aku segera bersembunyi di balik tembok.&lt;br /&gt;Kulempar dua mata pisau beracun ke arah mereka. Beberapa saat mereka pun ambruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Huh...!!! Mengganggu saja!" makiku ketika melewati mayat kedua penjaga tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahku terhenti ketika  melihat sesosok laki-laki berdiri di depanku.Tubuhnya di sandarkan pada dinding. Tangan dan kakinya terlipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hebat juga kau, bisa melumpuhkan mereka" ujarnya tanpa ekspresi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-119583954141579496?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/119583954141579496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/119583954141579496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/119583954141579496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword.html' title='Heart of Sword part 8'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-8832889189471899484</id><published>2009-09-27T11:38:00.003+08:00</published><updated>2009-09-27T11:45:43.319+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 7'/><title type='text'>Heart of Sword part 7</title><content type='html'>Pagi itu sangat cerah. Sang mentari dari ufuk timur memancarkan cahayanya. Kupu-kupu menari-nari diatas bunga. &lt;br /&gt;Burung-burung dari peraduannya berkicauan di dahan pohon. Tampak seorang laki-laki duduk di bawah pohon. Matanya menatap langit biru yang cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Rupanya kau disini?" kata seorang gadis yang muncul tiba-tiba. " Aku mencarimu kemana-mana!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu menoleh ke arah gadis di hadapannya. Gadis itu berambut panjang dan pirang. Kemudian gadis itu duduk disampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ada apa mencariku, Arche?" tanya laki-laki itu. Matanya menatap gadis disampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis yang dipanggil Arche itu menunduk. Wajahnya terlihat sedih.&lt;br /&gt;" Aku dengar, kau akan kembali ke istanamu... Benarkah?" tanya Arche lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu kembali memandang langit.&lt;br /&gt;" Ya, sudah seharusnya aku kembali"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa tidak bisa tinggal disini lebih lama lagi?" bujuk Arche.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. &lt;br /&gt;" Maafkan aku " matanya kembali menatap Arche.&lt;br /&gt;" Aku tak bisa membiarkan Ayahku membela kerajaan sendirian, apalagi kudengar akan ada pemberontakan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arche menunduk, ia tahu dirinya tidak bisa merubah keputusan laki-laki di sampingnya. Ia tahu hari itu pasti tiba. Dimana ia harus merelakan kepergiannya. Dari lubuk hati yang paling dalam, ia tak mau laki-laki itu pergi. Ia sudah jatuh hati padanya sejak laki-laki itu datang ke istananya sepuluh tahun yang lalu untuk berlatih pedang. Laki-laki itu bangkit dari duduknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau mau kemana??" tanya Arche.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku mau pergi berkemas" ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Seaan...!!!" panggil Arche.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sean hendak berbalik, Arche memeluknya dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kumohon jangan pergi!!" isak Arche.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean terdiam untuk beberapa saat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Jangan pergi !!! Kumohon!! Aku mencintaimu"kata Arche lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilepaskannya genggaman tangan Arche. Sean lalu memandang Arche yang menangis terisak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kumohon berhentilah menangis, aku akan sedih jika kau menangisi kepergianku!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu menyeka air mata Arche yang sembab. Ia tidak tega melihatnya. Ia menyesal kenapa Arche menyukainya. Padahal ia hanya menganggapnya sebagai adik, tidak lebih dari itu. Lagipula ia sudah menyukai wanita lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Jangan menangis lagi... Aku mohon tersenyumlah" kata Sean sambil memegang dagu Arche"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arche berhenti menangis. Ia pun berusaha untuk tersenyum, meskipun di paksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Nah... Begitu dong!! Kan jadi cantik"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean tersenyum manis. Senyum yang tanpa sadar tak akan dilupakan Arche seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kita pulang yuk" ajak Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arche mengangguk. Ia pun mengikuti Sean pulang ke istananya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-8832889189471899484?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/8832889189471899484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-7.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/8832889189471899484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/8832889189471899484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-7.html' title='Heart of Sword part 7'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-5341420730784792852</id><published>2009-09-25T10:27:00.003+08:00</published><updated>2009-09-27T11:32:52.700+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 6'/><title type='text'>Heart of Sword part 6</title><content type='html'>Mataku menangkap sosok laki-laki berambut panjang dan hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Rupanya kau, Lelouch?!?"&lt;br /&gt;kataku sambil menghela nafas&lt;br /&gt;" Bikin kaget saja!!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelouch lalu mendekatiku.&lt;br /&gt;" Kapten menyuruhku mengawasimu" ujarnya. " Tapi sepertinya kemampuanmu mulai meningkat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mungkin!!" jawabku pendek. Aku lalu melanjutkan latihanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelouch mendengus.&lt;br /&gt;" Kalau latihanmu begitu... Kau tak akan bisa jadi kuat!!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum kecut.&lt;br /&gt;" Kau cerewet sekali... Kalau begitu tunjukan kalau kau hebat!" sindirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelouch memandangku sejenak, tatapan matanya terlihat tajam. Ia lalu mengeluarkan pedangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Baik kalau itu maumu!!!"&lt;br /&gt;ujar Lelouch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Akan kulayani!" kataku mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh lelouch seketika melesat cepat bagaikan kilat. Pedangnya di arahkan ke tubuhku. Seakan-akan membelah bumi. Aku pun refleks menghindar. Secepat kilat pula kuacungkan pedangku ke arah Lelouch. Namun, ia berhasil  melompat dengan lincah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau tak akan lolos." ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Oya???"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu melangkah maju. Kuayunkan pedangku ke arahnya secara bertubi-tubi. Namun Ia berhasil menghindar dan melompat dengan indah di udara. Lelouch lalu maju dan menyerangku. Aku melompat ke udara, sehingga ia hanya bisa menebas angin. Lelouch tak menyerah ia terus mengeluarkan serangannya. Entah berapa pohon yang tumbang karenanya. Kami lalu beradu memainkan pedang layaknya bermain anggar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" TRANG..! TRANG..!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak percikan-percikan api muncul dari pergesekan pedang kami. Aku memutar pedangku. Dengan sekuat tenaga, kutepis pedang ditangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"CEPPP....!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedangnya jatuh sejauh sepuluh meter dan tertancap di tanah. Lelouch tak bisa mengelak, karena ujung pedangku sudah mengarah tepat di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Baiklah aku mengalah" kata Lelouch sambil mengangkat kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun melepaskan pedangku darinya.&lt;br /&gt;" Sekarang kau tak bisa meremehkan aku" kataku tersenyum penuh kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya...Setidaknya kau jauh lebih kuat dari dugaanku"&lt;br /&gt;ujar Lelouch sambil menghela nafas. "Sudahlah sekarang sudah malam. Istirahatlah!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu jawaban lagi, Lelouch melesat cepat. Dan menghilang di balik kelamnya malam. &lt;br /&gt;Aku menghela nafas panjang hendak melanjutkan latihanku. Setetes cairan merah  jatuh mengenai pedangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa ini??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu menyentuh cairan itu dan menciumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Darah? Ini bau darah!" gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku menunduk, darah itu kembali menetes. Lalu dengan takut-takut aku pun meraba hidungku. &lt;br /&gt;Kemudian kembali melihat tanganku. Dan ternyata darah itu memang keluar dari hidungku. Aku lalu pergi ke danau untuk membasuh hidungku.&lt;br /&gt;Kenapa? Kenapa lagi-lagi hidungku berdarah? Tanyaku dalam hati. Kejadian ini bukan pertama kalinya bagiku, karena waktu kecil aku pernah mengalaminya. &lt;br /&gt;Aku sendiri tidak tahu kenapa aku sering mimisan. Aku lalu kembali membasuh wajahku. Semoga Kapten tidak tahu akan hal ini! Batinku dalam hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-5341420730784792852?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/5341420730784792852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/hear-of-sword-part-6.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/5341420730784792852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/5341420730784792852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/hear-of-sword-part-6.html' title='Heart of Sword part 6'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-8373231865190650506</id><published>2009-09-25T08:39:00.004+08:00</published><updated>2009-09-25T10:24:27.055+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 5'/><title type='text'>Heart of Sword part 5</title><content type='html'>Aku mengamati pedang pemberian kapten ketika sampai di kamarku. Pedang itu masih terbungkus sarung. Kubuka sarungnya dengan hati- hati. Tampaklah sebuah Pedang panjang dan berkilat-kilat terkena cahaya. Bentuknya runcing. Sangat tajam dan mampu merobek apapun yang mengenainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau harus ingat, nyawa Ayahmu harus dibayar dengan nyawa!!" kata-kata kapten terus terngiang-ngiang di telingaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya nyawa Ayahku harus di bayar dengan nyawa Orricus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar kuayunkan pedang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" BRAKK...!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kursi terbelah menjadi dua. Rupanya aku terbawa emosi, sehingga tanpa sadar aku membelahnya. Napasku tak karuan, aku terduduk lemas. Wajah Ayah kembali berkelabat dalam benakku. Wajah yang tersenyum saat aku melihatnya membuat pedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau tahu satu hal Nak??" kata Ayah waktu itu. &lt;br /&gt;" Pedang dibuat untuk membela kebenaran"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa aku boleh menggunakannya ayah?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tidak, Nak!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kenapa Ayah? Apa karena aku masih kecil??" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahku menghela nafas panjang. Kemudian memandangku.&lt;br /&gt;" Kau tahu? kebanyakan pedang digunakan untuk membunuh" ujarnya sambil menerawang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sehingga terjadilah pertumpahan darah yang mengakibatkan kematian" lanjut Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kalau begitu kenapa Ayah mau membuat pedang kalau tahu akibatnya!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tergantung, Ayah hanya ingin membuat pedang untuk kebenaran dan harga diri... Sudahlah, nanti kau akan mengerti kalau kau sudah besar" kata Ayah sambil mengusap rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku memang tak mengerti apa-apa. Yang kutahu, aku sangat kesal karena Ayah tak pernah sekalipun mengajarkan ilmu pedangnya padaku. Padahal Ayah adalah ahli pedang, disamping pembuat pedang. Aku pernah melihat pedang legendaris milik Ayah. Ada ukiran berbentuk singa di bagian pegangannya. Ketika Ayah meninggal, bersamaan itu pula lenyapnya pedang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa pelupuk mataku panas, dan air mataku pun mengalir. Sesaat kemudian aku kembali memandang pedang ditanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan Orricus serasa menari di mataku. Aku memang tidak tahu Orricus seperti apa. Namun kata kapten keluarga Orricus mudah dikenali karena memakai kalung segitiga di lehernya dan itu adalah lambang dari kerajaan Orricus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Orricus.... Kau harus mati!!!" geramku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu bangkit dan memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Lihat saja... akan kubalaskan nyawa Ayahku padamu!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan berhenti membasahi bumi. Bulan purnama menggantung menghiasi langit.  Terdengar nyanyian gembira katak dimana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" HIAATTT...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengarahkan pedangku ke pohon. Maka seketika itu pula, pohon itu tumbang. Keringatku bercucuran, karena berlatih dari sore. Tiba-tiba ada sesuatu yang mengarah kepadaku. Refleks aku pun menghindar.&lt;br /&gt;Siapa yang berani menyerangku batinku. Aku mencari-cari sosoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; " Hebat juga gerakanmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau...!??"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-8373231865190650506?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/8373231865190650506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/8373231865190650506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/8373231865190650506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-5.html' title='Heart of Sword part 5'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-3117175923660820117</id><published>2009-09-24T14:03:00.003+08:00</published><updated>2009-09-24T18:54:46.528+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 4'/><title type='text'>Heart of Sword part 4</title><content type='html'>Aku menghela nafas panjang, lalu aku pun membuka pintu dan segera memasuki sebuah ruangan. Ruangan itu sangat luas, gelap, dan menyeramkan. Hanya orang yang di panggil kapten saja yang boleh masuk. Sebab di ruangan itu terdapat pintu rahasia yang tak boleh dibuka kecuali kapten sendiri. Bahkan Lelouch, tangan kanan kepercayaan kapten, tak pernah sekalipun masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kapten memanggilku??" tanyaku kemudian.&lt;br /&gt;Aku menunggu jawaban kapten yang berdiri membelakangiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya... Aku memang memanggilmu..." seru kapten Ardness. Suaranya terdengar berat. Ia pun berbalik dan menatapku. Tatapan Matanya sangat tajam hingga dapat menembus hati. Warna matanya hitam dan begitu kelam. Wajahnya pucat seperti terpahat es. Laki-laki inilah yang mengubah namaku menjadi Artemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa yang ingin kau bicarakan denganku kapten??" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten menaikkan sebelah alisnya. Ia kemudian tersenyum tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau sama seperti biasa, tidak suka berbasi-basi" ujarnya ia lalu menyalakan cerutunya. Sejurus kemudian kapten menatapku, tatapannya tajam menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Baiklah aku akan langsung ke intinya... Kau tahu Orricus kan??" tanya kapten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darahku langsung berdesir mendengar kata Orricus. Orricus adalah seorang Raja yang telah membunuh Ayahku. Aku memang tidak melihat langsung ketika Ayahku dibunuh. &lt;br /&gt;Masih jelas dalam ingatanku ketika umurku sepuluh tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku baru pulang dari kebun apel. Sesampai di rumah, rumah dalam keaadaan berantakan. Dan betapa kagetnya aku mendapati Ayahku tergeletak dan tubuhnya berlumuran darah. Aku sempat shock melihatnya. Air mataku tak henti-hentinya menangis. Kemudian kapten datang menenangkanku. Kapten adalah teman Ayahku. Setelah kematian kedua orang tuaku. Aku menjadi sebatang kara. Akhirnya Kapten membawaku ke rumahnya dan mengganti namaku agar aku segera melupakan masa lalu. Kemudian olehnya aku dinamai Artemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya... Aku tahu" jawabku dingin.&lt;br /&gt;" Lalu ada masalah apa? Apa aku harus membunuhnya? Akan kulakukan!!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten tertawa mendengarnya.&lt;br /&gt;" Tampaknya kau bernafsu sekali ingin membunuh Orricus" sahutnya. Ia lalu menghisap cerutunya dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya...tentu saja aku tak akan lupa!"&lt;br /&gt;ujarku dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau benar Artemis!" sambung kapten.&lt;br /&gt;" Ayahmu adalah orang baik...Tentunya kau tak akan diam saja kan, melihat arwah Ayahmu tidak tenang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigiku bergelemetukan menahan emosi. Darahku serasa mendidih. Mendengar kata Orricus membuatku muak. Ingin rasanya membunuhnya sampai keakar-akarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku memang memerintahkanmu untuk menghabisi istana Oricus karena inilah saat yang tepat... " sahut kapten. &lt;br /&gt;" Tapi tentunya kau harus berlatih pedang dulu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kapten tak perlu khawatir. Kemampuanku bisa diandalkan" ujarku mantap. &lt;br /&gt;" Aku sudah mengalahkan puluhan orang, jadi kupikir aku bisa mengalahkan Orricus"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten menggelengkan kepalanya &lt;br /&gt;" Itu belum cukup untuk jadi kuat" katanya.&lt;br /&gt;Matanya kembali menatapku. &lt;br /&gt;" Orricus sangat kuat. Dan apa kau tahu? Orricus memiliki seorang putra, dan kudengar sangat mahir dalam  soal pedang. Jadi kau harus berhati-hati..." ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu mendekatiku dan memberikanku sebuah pedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau harus ingat, nyawa Ayahmu harus di bayar dengan nyawa" bisiknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-3117175923660820117?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/3117175923660820117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/3117175923660820117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/3117175923660820117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-4.html' title='Heart of Sword part 4'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-8795750929267221719</id><published>2009-09-24T10:42:00.005+08:00</published><updated>2009-09-24T13:55:41.167+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 3'/><title type='text'>Heart of Sword part 3</title><content type='html'>Aku memandang wajah Sean.&lt;br /&gt;" Eh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku juga berterima kasih padamu karena kau telah memanggilku pahlawan" ujar Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tapi itu kan biasa saja Sean!" bantahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Menurutmu itu biasa, tapi bagiku tidak" kata Sean sambil menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa pipiku panas seketika mendengar perkataan Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau tahu? Di sekolah semuanya memanggilku si pengacau..." cerita Sean.&lt;br /&gt;" Padahal mereka yang cari gara-gara duluan, mereka suka mengejekku. Aku marah dan berkelahi dengan mereka. Ya... Memang aku yang menang, tapi semuanya menjadi dendam padaku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean menerawang. Dibiarkan es krimnya meleleh, jatuh sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Seperti waktu itu, aku dituduh memecahkan kaca kepala istana. Padahal aku nggak salah, tapi karena saat itu aku di tempat kejadian, jadi aku yang dituduh. Padahal aku tahu siapa pelakunya. Tapi tak ada yang percaya padaku. Bahkan Ayahku." Kata Sean. &lt;br /&gt;" Aku menjadi kesal dan memutuskan untuk kabur dari sekolah istana dan disaat itulah aku bertemu denganmu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar larut dengan cerita Sean. Sampai lupa akan es krimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Yah.. Meskipun aku tidak salah, mana ada yang percaya padaku... Aku tetaplah dipanggil si pengacau" keluh Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau bukan si pengacau Sean" potongku.&lt;br /&gt;" Tapi kau adalah seorang pahlawan! Kau sudah membuktikan itu dengan menolongku. Kau tak usah memikirkan mereka yang mengejekmu. Aku percaya padamu! Karena bagiku kau adalah pahlawan, walau sampai kapan pun juga!" ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean tertegun menatapku. Aku menelan ludah. Apa yang barusan aku katakan tadi? Pikirku dalam hati. Sesaat dia pun tersenyum.&lt;br /&gt;" Terima kasih ya.." Kata Sean sambil mengacak rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun tersenyum dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hayde, es krimmu!!?" teriak Sean lagi, sambil menunjuk es krimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu memandang es krimku yang sudah tak berbentuk lagi alias mencair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Yah.. Punyaku juga..." sahut Sean sambil melihat es krimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun tertawa riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ayo ikut aku..." ajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kemana Sean??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengedipkan sebelah matanya. " Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean lalu mengajakku ke kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Duduklah!" perintahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun menurut. Tak lama kemudian, dia juga duduk. Sean lalu mengeluarkan sebuah seruling dari balik sakunya. Seruling itu terbuat dari bambu berwarna kuning keemasan. Namun bentuknya sangat unik karena hanya terdapat empat buah lubang. Aku hanya memperhatikan apa yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hayde... Aku ingin kau mendengarnya" kata Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Sean meniup seruling tersebut. Alunan suaranya sangat indah tak terlukiskan, membuat perasaan damai dan tentram. Setiap irama yang dikeluarkan merasuk jiwa bagi setiap yang mendengarnya. Aku benar-benar hanyut dalam permainan seruling itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Gimana bagus nggak?" tanya Sean setelah dia selesai memainkan seruling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Iya...bagus" jawabku kalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean tersenyum, membuat aku makin larut.&lt;br /&gt;" Terima kasih ya, karena udah nemenin aku," kata Sean "Aku nggak pernah merasa sesenang hari ini"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba menatapnya balik. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari kantungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau lihat kalung ini..." katanya sambil memperlihatkannya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Wah...indah sekali!!!" kataku kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau suka??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menganggukan kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini untukmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Untukku? Ta...tapi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean tak mempedulikan kata-kataku ia malah memakaikannya di leherku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Nah, cocok sekali. Kau jadi terlihat semakin cantik" puji Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tapi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kalau kau tolak, aku akan marah..." potong Sean.&lt;br /&gt;" Anggap saja balas budiku, karena waktu itu kau memberiku apel. Pokoknya Jangan sampai hilang!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melongo. Apel yang waktu itu? Tapi itu murah sekali jika di bandingkan kalung ini batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Haydee!!? Janji ya.." ulang Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Eh...iya aku janji!!"&lt;br /&gt;ucapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu menjadi hari terakhir aku bertemu dengannya. Karena dia harus pergi ke luar kota untuk melatih ilmu pedangnya. Aku kembali menatap kalung pemberian Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sean, kau dimana sekarang??" gumamku sedih. Tak terasa air mataku menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Artemis...??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terperanjat mendengar suara itu. Buru-buru aku menghapus air mataku. Mataku menatap sosok laki-laki di hadapanku. Rambutnya berwarna hijau panjang dan tergerai. Bibirnya tak pernah sekalipun menyunggingkan sebuah senyuman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;" Ya...Ada apa lelouch?!?" tanyaku tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku ke sini karena kapten menyuruhku memanggilmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya, aku segera kesana" ucapku masih tanpa ekspresi. Lelouch memandangku dingin dan pergi meninggalkanku sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-8795750929267221719?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/8795750929267221719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/8795750929267221719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/8795750929267221719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-3.html' title='Heart of Sword part 3'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-2642325230194713622</id><published>2009-09-23T12:01:00.007+08:00</published><updated>2009-11-23T19:35:40.159+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of Sword part 2'/><title type='text'>Heart of Sword part 2</title><content type='html'>Sore itu, aku bertemu dengannya lagi di taman bermain. Aku melihatnya berada di balik  pohon beringin. Karena penasaran, aku pun menegurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hei, kau sedang apa disitu??" tanyaku heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean tak menjawab, wajahnya menoleh ke kanan dan ke kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi penasaran sebenarnya apa yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Seaan....??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu menarikku ke sampingnya membuatku sedikit terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sean, apa yang kau..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean meletakkan telunjuknya di bibirnya menyuruhku diam.&lt;br /&gt;Aku menurut saja meskipun aku tidak mengerti apa yang terjadi. Sejurus kemudian aku melihat beberapa pengawal istana berpatroli. Sean menyuruhku merapat mendekatinya.&lt;br /&gt;Membuat jantungku bekerja dua kali lebih cepat. Beberapa lama kemudian pengawal istana itu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Huh...!!!" Sean menarik nafas dalam-dalam.  "Akhirnya mereka pergi juga"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Memangnya ada apa dengan para pengawal tadi?" tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau tahu? Mereka itu pengawal ayahku. Mereka berusaha mencariku" kata Sean kemudian.&lt;br /&gt;" Ayahku menyuruhku berlatih pedang. Dia bilang aku akan jadi pewaris kerajaan. Dan akan membela negara... Aku tahu itu, tapi dia tak perlu memaksaku berlatih pedang setiap hari, Padahal kan aku ingin bermain!!!"gerutunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum.&lt;br /&gt;" Tapi setidaknya berlatih pedang itu penting! Ayahku pembuat pedang handal, tapi dia melarangku memakainya" ucapku kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Benarkah?? Wah ayahmu hebat bisa buat pedang" puji Sean. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya... Makanya kau tidak boleh marah pada Ayahmu. Suatu hari aku ingin melihat kau memainkan pedang dan jadi kuat!! Karena kau pahlawan!" ujarku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean tertegun mendengarnya. Kemudian ia pun tertawa.&lt;br /&gt;" Pahlawan?!? Lucu juga? Kita main yuk?!!?" ajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk mantap. Dia lalu mengenggam tanganku menuju taman bermain. Genggaman tangannya tak akan pernah aku lupakan. Sore itu terasa menyenangkan. Kami bermain dan mencoba berbagai macam permainan. Kami tertawa bersama-sama. Semuanya bagaikan mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mau es krim nggak?" tawar Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Iya mau..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mau rasa apa?" tanya Sean lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku suka vanilla" kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Wah sama, aku juga suka Vanilla" sahut Sean. &lt;br /&gt;" Bentar ya, nggak lama kok"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean kemudian pergi. Aku lalu duduk di taman menunggunya. Kugoyangkan kedua kakiku. Tak lama Sean datang membawa dua es krim rasa Vanilla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ini es krimnya tuan putri" ujarnya sambil menyerahkannya padaku. Aku tertawa mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Terima kasih pangeran..." kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia balik tertawa. Aku menjilat es krimku sambil memperhatikan Sean menjilat es krimnya. Wajahnya lucu sekali. Tampak sisa-sisa es krim di mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sean, kau makan celemotan!" celutukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Benarkah? Sebelah mana?"tanya Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Yang sebelah kiri" kataku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aduh yang mana sih?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi gemas, lalu aku membersihkan sisa es krim di sekitar mulutnya. Kulihat wajahnya sedikit memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Nah...udah bersih" kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu melanjutkan acara makan es krimku. Namun kali ini Sean gantian menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kenapa kau melihatku begitu?"&lt;br /&gt;tanyaku heran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Habis wajahmu lucu sih, seperti badut" ujar Sean sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hei, cuma badut yang makannya celemotan!" ujarku protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean pun tertawa.&lt;br /&gt;" Oiya Hayde kenapa waktu itu kau memanggilku pahlawan?" tanya Sean tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghentikan makan es krimku. Kemudian memandang wajah Sean yang di penuhi rasa ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Karena bagiku kau seorang penyelamat. Tiba-tiba datang menolongku. Dan membantuku dari Anak-anak nakal itu.."ujarku pelan.&lt;br /&gt;" Aku benar-benar tertolong! Entah bagaimana jadinya kalau kau nggak ada, jadi terima kasih ya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku juga" potong Sean.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-2642325230194713622?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/2642325230194713622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/2642325230194713622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/2642325230194713622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/09/heart-of-sword-part-2.html' title='Heart of Sword part 2'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6901487646460980539.post-7671937125256844109</id><published>2009-07-18T21:15:00.011+08:00</published><updated>2009-09-24T18:38:51.743+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heart of sword part 1'/><title type='text'>Heart of sword part 1</title><content type='html'>Aku memandang jendela kamarku, kupandangi langit di luar sana. Tampak hitam dan kelabu. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi menangisi alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hidup yang menyedihkan" gumamku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memegang kalung perak yang terpasang di leherku. Sangat indah, ditengahnya terdapat berlian berwarna biru tua berbentuk segitiga. Aku tidak bosan memperhatikan kemilau warnanya yang mampu menyihir mataku.&lt;br /&gt;Kalung ini sangat berharga bagiku karena ini pemberian seseorang yang aku cintai pada pandangan pertama. Lintasan waktu kembali berputar, membawaku ke tempat itu. Awal pertemuan kami. Ya...Sepuluh tahun yang lalu saat itu  umurku baru berusia sembilan tahun. Aku baru pulang memetik buah apel dari kebun untuk dijual. Namun di tengah jalan aku di hadang ketiga anak nakal yang dengan paksa merebut keranjang apelku. Hingga sebagian buahnya jatuh ke tanah. Aku menangis,sementara ketiga anak nakal itu malah tertawa. Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki yang datang menolongku. Pakaiannya sangat necis mirip anak bangsawan. Rambutnya hitam lurus, dan ia memiliki sepasang bola mata yang indah berwarna cokelat bening. Dari tampangnya mungkin ia berumur sebelas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hei, kalian bisanya cuma membuat perempuan nangis!" bentak anak laki-laki itu.&lt;br /&gt;" Kalau berani hadapi aku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketiga anak nakal itu spontan berhenti tertawa. Mereka kelihatan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kau pikir kau siapa? Jagoan??," kata Anak nakal yang berbadan paling besar.&lt;br /&gt;" Apa kau tidak tahu siapa kami??" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku tidak peduli siapa kalian!!! Yang aku tahu kalian itu cuma pengecut yang beraninya main keroyokan," ejek Anak laki-laki itu. "Udah gitu... Beraninya cuma sama perempuan lagi!! Dasar cemen!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa kau bilang?!? Berani mengatai kita pengecut!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Memang iya kan? Pengecut..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkataan itu sebuah pukulan diayunkan ke arahnya. Ia refleks menghindar. Matanya memandang tajam ke arah anak-anak nakal itu. Seulas senyum tersungging di bibirnya, membuat anak-anak nakal itu semakin beringas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukulan demi pukulan dilayangkan ke arahnya. Tapi tak ada satu pun yang mengenainya. Anak laki-laki itu tampak menikmati perlawanan ketiganya. Tepat saat pukulan diarahkan ke perutnya. Ia pun melompat dan memukul tengkuk leher anak nakal itu hingga jatuh tersungkur. Melihat temannya tersungkur, serempak mereka maju.&lt;br /&gt;Seiring dengan itu ia menendang tubuh keduanya hingga terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apa kalian masih berani??!" sindir anak laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan mereka pun berdiri lalu lari pontang-panting. Anak laki-laki itu tersenyum puas. Ia lalu membantuku memungut buah apel yang jatuh dan memasukannya ke dalam keranjang. Sesaat aku hanya bisa memperhatikan dia memasukkan apel ke dalam keranjang, wajahnya begitu tampan. &lt;br /&gt;Sadar aku memandangnya, anak laki-laki itu tersenyum. Aku terpana, senyumnya begitu menawan. Setelah selesai memasukkan apel, ia lalu berdiri, aku pun demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Te...terima kasih" kataku gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Nggak masalah" sahutnya ringan. &lt;br /&gt;" kau nggak apa-apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;" Aku belum tahu namamu?"tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku Sean Houston" jawab anak laki-laki itu.&lt;br /&gt;" Kau sendiri?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu menjulurkan tanganku.&lt;br /&gt;" Aku Hayde...Rozen Hayde" ucapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah senyum tulus mengembang di wajahnya. Ia lalu membalas uluran tanganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aku harus pergi!" kata Sean kemudian." Aku harap kita bertemu lagi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya...aku juga" jawabku. &lt;br /&gt;"Terima kasih ya...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean tertegun untuk beberapa saat. Kemudian dia tersenyum. Ketika Ia hendak  berbalik, aku teringat akan apelku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Seaaan..." panggilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean menoleh, aku buru-buru mengambil beberapa apel untuknya dan menaruhnya dalam kantung plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ini untukmu!" sahutku tanpa basa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu menyodorkan kantung plastik yang berisi apel itu kepada Sean. Sean tidak segera menerimanya, dia malah keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tolong diterima, ehm... Anggap saja Ini sebagai ucapan terima kasih" kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sean lalu mengambil kantung plastik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Makasih ya.." kata Sean kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu berbalik dan pergi. Sementara aku hanya memandangnya dari kejauhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6901487646460980539-7671937125256844109?l=chondena-chondena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/feeds/7671937125256844109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/07/heart-of-sword.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/7671937125256844109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6901487646460980539/posts/default/7671937125256844109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chondena-chondena.blogspot.com/2009/07/heart-of-sword.html' title='Heart of sword part 1'/><author><name>Siti Maemunah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16714408267115301628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
